Jak-Japan Matsuri 2019, Yuk Intip Keseruannya!



Konnichiwa! Gimana hari-harinya melelahkan atau menyenangkan? Suka-Suki balik lagi nih buat nemenin kalian. Meskipun sempat mau menyerah karena udah nulis artikel ini dan browser-nya crash sebelum tulisannya di-post.

Tetapi karena Suka-Suki masih mau terus berlanjut, artikel ini mesti ditulis ulang. Daijoubu desu. Ganbatte kudasai!

Pekan lalu atau tepatnya pada 7 dan 8 September 2019 baru saja digelar Jak-Japan Matsuri (JJM) 2019, sebuah festival budaya Indonesia dan Jepang yang merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Kedutaan Besar Jepang di Jakarta. 

Festival tahunan yang telah diselenggarakan sejak tahun 2009 ini, pada penyelenggaraannya yang ke-11 sukses meludeskan tiket penjualannya yang sebelumnya ditargetkan hanya untuk 30.000 pengunjung.

Masih dengan mengusung tema yang sama yakni "Indonesia & Japan Always Together" yang memiliki makna Jepang dan Indonesia selalu bekerja sama bahu-membahu dalam hal apapun.

Namun kali ini dengan subtema Join and Experience Real Culture, JJM tidak hanya ingin menampilkan budaya Jepang dan budaya Indonesia yang seimbang melalui kesenian tradisional maupun pop culture tetapi juga mengajak pengunjung untuk berpartisipasi merasakan langsung pengalaman budaya tersebut.

Source: Jakjapanmatsuri.id

Hayo, kalian pada datang nggak nih JJM kemarin? Pasti seru banget kan. Bagi yang belum bisa datang, tenang aja karena kabarnya JJM akan diadakan kembali tahun depan. Artinya masih ada kesempatan buat yang belum pernah ke sana. Kita tunggu aja ya 357 hari lagi hehe.

Eits, daripada kelamaan nunggu gimana kalau kita intip dulu keseruan JJM kemarin biar nggak penasaran. Emangnya ada apa aja sih di JJM? Simak ulasan Suka-Suki sampai habis ya.


Matsuri itu apa sih?

Torii Gate di Fushimi Inari Taisha, Kyoto. Souce: nippon.com

Matsuri () yang berasal dari kata matsuru (祀る, menyembah, memuja) memiliki makna denotatif serta konotatif. Merujuk pada kamus daring bahasa Jepang Jisho.org ditemukan sekitar 12 kata serta 13 kanji yang berkaitan dengan matsuri. Secara umum pengertian matsuri mengacu pada festival atau perayaan.

Sedangkan pengertian lainnya berkaitan dengan ritual, berdoa, ibadah, merayakan, mendewakan dan mengabadikan. Ritual peribadatan ini sangat erat kaitannya dengan agama Shinto.

Beberapa matsuri yang paling populer di Jepang antara lain, Gion Matsuri, Kanda Matsuri, Sanja Matsuri, dan Tenjinmatsuri.

Artikel lebih lengkap tentang Matsuri bisa di baca di sini 

Seiring dengan perkembangan zaman, matsuri lebih diartikan secara sekuler. Matsuri diartikan sebagai sebuah festival dan perayaan semata, tanpa adanya kegiatan keagamaan dan peribadatan.

Di Indonesia sendiri, istilah matsuri kerap digunakan untuk acara-acara yang berkaitan dengan festival kebudayaan Jepang. Meskipun dalam kegiatan tersebut terkadang masih terdapat unsur-unsur matsuri yang 'sesungguhnya'.

Memisahkan kedua unsur budaya dengan kepercayaan kendatinya memang sulit. Seperti di Indonesia saja misalnya, masih banyak kegiatan kebudayaan yang kerap berkaitan dengan nilai-nilai kepercayaan.

Seperti misalnya tari Barong Bali, Reog Ponorogo dan Wayang Kulit Cirebon.

Namun, semua hal tentunya kembali kepada setiap individu yang memaknainya. Baik itu berupa warisan budaya maupun ritual kepercayaan.

Semua tentu sah-sah saja apabila ada makna positif yang terkadung di dalamnya. Serta membawa kepada rasa syukur dan semangat untuk menjalani hidup.


 Ajang Pertukaran Budaya


Lokasi penyelenggaraan Jak-Japan Matsuri 2019 di Parkir Selatan PPK, Gelora Bung Karno, Senayan

Jak-Japan Matsuri sendiri mengklaim bahwa acaranya ini merupakan ajang pertukaran budaya kedua negara yakni, Jepang dan Indonesia. Karena itu di dalamnya tentu terdapat banyak sajian budaya, baik tradisional maupun populer.

Meskipun jika boleh dipersentasekan mungkin hanya sekitar 10 persen budaya Indonesia yang ditampilkan, khususnya budaya Betawi.

Hal ini tentu mengingat begitu beragamnya budaya tradisional Indonesia sehingga rasanya tak mungkin ditampilkan semua dalam satu pekan acara. Jadi bisa dibilang, acara ini lebih mengenalkan kita kepada budaya Jepang.

Roll up banner JJM 2019 dipasang sepanjang jalan menuju loket tiket

Dengan merogoh kocek sebesar Rp 30 ribu rupiah untuk umum dan Rp 20 ribu rupiah bagi pelajar, dan atau gratis bagi anak yang berusia di bawah 5 tahun, pengunjung dapat menikmati berbagai sajian pertunjukan.

Secara garis besar pertunjukan di JJM terbagi menjadi tiga bagian yakni, JJM Stage, Exchange Zone dan Experience Zone. Beberapa sajian 'lokal' yang ditampilkan di antaranya JJC Bali Dance, DKI Betawi Dance, Kirana Nusantara Dance, Pencak Silat, Tarung Derajat, dan Egrang Bambu.

Bagi pecinta kuliner, festival ini tentu sangat 'ramah' karena menyediakan stan-stan yang menjajakan makanan terutama Japanese Street Food, seperti takoyaki, okonomiyaki, yakitori, dango, ramen, dan udon. 

Ilustrasi takoyaki. Source: Pixabay

Tak ketinggalan pula manisan apel yang populer di Jepang alias Ringo Ame dan es serut ala Jepang atau Kakigori yang ikut meramaikan festival ini. 

Ilustrasi Ringo Ame. Source: Shutterstock.com
 
Ilustrasi Kakigori. Source: istockphoto.com

Setiap pengunjung yang masuk JJM mendapat uchiwasebuah kipas tangan yang sering digunakan orang Jepang saat mendatangi festival, dan surat kabar Halo Jepang edisi khusus. 

Uchiwa dan surat kabar Halo Jepang (edisi khusus)

Begitu masuk, pengunjung langsung disambut dengan keindahan pohon sakura (bukan sungguhan tentunya) serta lampion berwarna merah dan putih berlogo Jak-Japan Matsuri. 
Jika boleh berfilosofi, warna merah dan putih ini mungkin merupakan simbolisasi antara bendera Jepang dan Indonesia yang sama-sama merupakan perpaduan kedua warna tersebut.

Tak luput pula kehadiran ondel-ondel yang ikonis dengan budaya Betawi, meskipun ondel-ondel tersebut tidak berkeliling menari dan meminta kesukarelaan pengunjung untuk memberikan 'uang receh'.

Sakura dan Lampion di Jak-Japan Matsuri 2019

Tak hanya kuliner Jepang, kuliner lokal juga ikut meramaikan JJM 2019 seperti soto betawi dan kerak telor. Makanan ini diharapkan bisa ikut dikenal, mengingat pada festival ini banyak pengunjung yang datang merupakan orang Jepang.

Selain itu, batik juga diharapkan menjadi opsi cendera mata yang dapat dibawa dari acara ini.

Stan kuliner dan kebudayaan Jakarta


Sarana Edukasi

Area stan-stan edukasi

Selain ajang pertukaran budaya, JJM juga memberi ruang khusus bagi stan-stan yang berfokus pada edukasi, mulai dari kursus bahasa jepang, buku-buku yang berkaitan dengan JLPT (Japanese Language Proficiency Test), panduan trip ke Jepang serta edukasi mengenai gempa dari JICA.

Salah satu stan yang cukup populer salah satunya ialah Gakushudo, sekolah bahasa Jepang dan Manga tersohor yang juga rutin menerbitkan buku-buku pelajaran bahasa Jepang dan panduan membuat Manga (komik Jepang). Gakushudo juga dikenal sebagai salah satu Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) yang menyalurkan perawat dari Indonesia untuk dipekerjakan di Jepang.

Stan edukasi Japan Foundation yang juga cukup populer


Simulasi dan rancangan bangunan tahan gempa oleh JICA

Tak hanya mengedukasi lewat bahasa serta kebudayaan Jepang saja, JJM juga berupaya mengedukasi pengunjung (khususnya Warga Negara Indonesia) untuk lebih peduli dengan sampah serta mengenal jenis-jenis sampah dan bahayanya.

Sebagaimana yang kita ketahui, masyarakat Jepang sangat disiplin dan teratur dalam membuang sampah pada tempatnya. Bahkan mereka telah sedari lama membuang sampah sesuai dengan jenis-jenisnya.

Kesadaran untuk 'bertanggung jawab pada sampah sendiri' sudah ditanamkan kepada anak-anak di Jepang sejak kecil. Kebiasaan baik ini sepertinya memang perlu sekali diterapkan dan ditumbuhkan pada anak-anak Indonesia.
   
Stan edukasi jenis-jenis sampah

Selain mengedukasi sampah, JJM juga menggandeng Jakarta Osoji Club (JOC), sebuah komunitas yang peduli akan kesehatan dan kebersihan lingkungan. Melalui JOC, pengunjung diajak untuk berpartisipasi menjadi pegiat kebersihan melalui program volunteering yang ditawarkannya.

Foto Profil Jakarta Osoji Club

 

Pengalaman Baru

Antusiasme pengunjung mempelajari Shodo

Mencoba berbagai hal baru mungkin bagi sebagian orang merupakan sesuatu yang wajib, guna menjawab rasa penasaran. Seperti halnya yang dirasakan pengunjung ketika mencoba Shodo alias kaligrafi atau seni melukis huruf Jepang.

Pada kesempatan ini, pengunjung diajak untuk menulis nama mereka menggunakan huruf kanji.

Pengunjung yang sedang mempelajari Origami

Kalau origami pasti kalian udah kenal dong? Seni melipat kertas dari Jepang ini kayaknya populer banget deh. Apalagi pembahasan mengenai origami juga kerap muncul di buku kerajinan tangan dan kesenian sekolah dasar.

Wajar saja rasanya kalau hampir setiap orang (meskipun tidak suka hal-hal yang berkaitan dengan Jepang) tahu perihal ini.

Stan yang menawarkan untuk berfoto menggunakan Yukata

Selain shodo dan origami, pengunjung juga dapat merasakan sensasi memakai Yukatapakaian tradisional masyarakat Jepang yang biasanya dipakai saat festival musim panas. Pengunjung dapat mengenakan Yukata sambil berfoto dengan latar sakura maupun hanabi (kembang api) yang sudah disediakan.

Pengunjung yang sedang mengantre untuk berfoto mengenakan Yukata

Bagi pengunjung yang gemar dengan Tokusatsu atau serial super hero Jepang, JJM juga menghadirkan salah satu ikon serial tokusatsu untuk berfoto dengan pengunjung.

Satria Garuda Bima-X, serial tokusatsu buatan Indonesia yang merupakan hasil kerja sama MNC Media atas inisiasi Reino Barack (suami Syahrini) dengan Ishimori Productions (pembuat serial Kamen Rider) ini juga turut berpartisipasi di JJM 2019.  

Memilih berfoto bersama Bima-X daripada foto Yukata sendiri :(

Ajang Bermain

Anak-anak yang sedang bermain Shuriken

Pernah liat senjata ninja yang suka dilempar, bentuknya mirip bintang dan sering muncul di film Naruto? Yup, Shuriken. Di JJM kali ini kita bisa bermain shuriken layaknya seorang ninja.

Tapi mungkin demi keamanan, shuriken yang digunakan di sini berbahan plastik dan tidak tajam sehingga aman bagi anak-anak.

Setelah bermain shuriken kita juga bisa langsung mencoba permainan tradisional di sebelahnya yaitu Kendama dan Koma. Kendama merupakan permainan yang menggunakan tongkat seperti pedang, memiliki sebuah palang dan bola berlubang yang bertali. 

Ilustrasi permainan Kendama. Source: Kendamausa.com

Sedangkan Koma atau dalam bahasa Jepang yang berarti gasing, merupakan permainan gasing tradisional Jepang.

Cara memainkannya dengan melilitkan tali pada tiang bagian atas gasing sebanyak tiga kali, kemudian membalik gasing dan melilitkan kembali tali pada tiang bawah gasing sampai menutupi hampir semua bagian bawah gasing. Baru kemudian gasing tersebut dilemparkan ke atas papan.

Pengunjung yang sedang mencoba permainan Koma

Permainan gasing sebenarnya merupakan permainan yang juga digemari di Indonesia. Bahkan di beberapa daerah di Indonesia, permainan gasing memiliki bentuk, warna serta keunikannya masing-masing, sesuai daerah asalnya.

Pada era 2000-an, permainan gasing tradisional berbahan kayu juga sering dipermainkan oleh anak-anak. Umumnya para penjual gasing ini menjajakan dagangannya di dekat sekolah-sekolah dasar.

Bon Odori & Parade Mikoshi

Bon Odori di Jepang. Source: 9pj.weebly.com

Bon Odori atau yang juga berarti Bon dance merupakan tarian tradisional yang dipertunjukan selama festival Obon. Pada JJM kemarin, Bon Odori juga ikut ditampilkan pada hari pertama.

Tapi karena gue hanya datang pada hari ke-2, jadinya nggak bisa menyaksikan langsung bagaimana tarian tersebut.

Mikoshi di JJM 2019

Mikoshi atau omikoshi adalah sebuah kuil (portabel) yang berukuran kecil, umunya selalu ada dalam setiap penyelenggaraan matsuri. Mikoshi kerap dikaitkan sebagai sebuah tunggangan dewa.

Parade mikoshi dilakukan dengan cara menggotong mikoshi secara bersama-sama menggunakan ritme dan irama tertentu. Pada JJM 2019 kemarin, parade mikoshi ikut serta meramaikan acara sekaligus mengajak pengunjung yang ingin menjadi sukarelawan untuk merasakan menjadi bagian dari parade tersebut.

Parade Mikoshi oleh anak-anak

Parade Mikoshi yang dibawa oleh perempuan

Parade Mikoshi yang dibawa oleh laki-laki

Memilih Penampilan Spesial

Festival tahunan sekelas JJM tentunya akan terasa kurang lengkap tanpa kehadiran para bintang di atas panggung.

Tahun lalu saja, JJM berhasil mendatangkan 11 personel AKB 48 yakni di antaranya Yui Yokoyama, Saya Kawamoto, Rena Nozawa, Haruka Komiyama, Ami Yumoto, Miyu Omori, Yui Oguri, Rin Okabe, Nanami Sato, Serika Nagano, Yurina Gyouten.

Kali ini JJM 2019 sepertinya lebih menonjolkan penampilan-penampilan musisi 'lokal' untuk mengisi hiburan pada panggung JJM Stage. JJM 2019 menawarkan dua paket pilihan hiburan spesial, antara lain JKT48 Team Academy, Shojo Complex serta Eva Celia pada hari pertama dan JKT48 Akustik, Andmesh Kamaleng serta JKT48 All Stars di hari kedua.

Tentunya hal ini tidak berlaku bagi kalian yang datang di keduanya hehe. 

JKT48 Team Academy di JJM 2019. Source: Official Twitter JKT48
Source: Official Twitter Shojo Complex


Andmesh Kamaleng di JJM 2019. Source: Official Twitter JJM
 
Penampilan penutup dari JKT48 All Stars. Source: Official Twitter JKT48



Selain para bintang tersebut, turut hadir pula musisi Jepang yang juga populer di Indonesia yaitu Hiroaki Kato. Hiroaki Kato kali ini sekaligus merangkap menjadi Master of Ceremonies dalam JJM 2019, berduet dengan Haruka Nakagawa.

Salah satu penampilan yang juga menarik perhatian sebelum acara penutup ialah 'Senohi Wotagei'. Penampilan yang merupakan perpaduan antara atraksi memainkan lightstick dengan tarian modern ini berhasil mencuri fokus pengunjung.

Apalagi lagu pembuka mereka kemarin adalah Grand Escape karya RADWIMPS featuring Toko Miura original soundtrack-nya Tenki No Ko (Weathering With You). 

Selain itu, cuplikan dari trailer Tenki No Ko yang juga ikut diputar di atas panggung semakin membuat para pengunjung riuh. Bagaimana tidak, lha wong anime ini sedang hangat-hangatnya.

Momentum ini sangat bagus mengingat para pengunjung yang datang ke JJM tentunya sebagian besar merupakan pecinta anime. 


Reaksi pengunjung saat Grand Escape diputar

Yang Perlu Diapresiasi

Banyak banget sebetulnya yang bisa diapresiasi dari event JJM ini. Tapi beberapa hal ini yang membuat JJM semakin layak untuk dikunjungi adalah;

  • Ketersediaan tempat sampah yang banyak
  • Bersih, karena yang datang tertib plus ada JOC
  • Tidak sesak, karena pengunjungnya dibatasi
  • Sekali beli tiket bisa keluar-masuk event
  • Tersedianya mushola di area venue
  • Banyak toilet
  • Banyak hadiah gratisan seperti botol minum, kipas, pin, gelang, sabun, voucher makanan, totebag,dll.
  • Banyak penjual makanan dan minuman  


Kira-kira begitulah keseruan JJM 2019 kemarin. Sebenarnya masih banyak keseruan lain yang nggak sempat diliput sih hehe. Semoga tahun depan bisa bertemu lagi dengan JJM selanjutnya ya. No skip-skip pokoknya!

Kalau begitu Suka-Suki kali ini cukup sampai di sini. Sampai bertemu lagi di Suka-Suki selanjutnya. 


Jaa, matane!

Post a Comment

0 Comments