Minat Baca Berita Turun, Apa Iya?

minat baca berita





Selamat malam. Akhirnya kita berjumpa kembali dalam kata—demi—kata yang terangkai menjadi beberapa paragraf ini. Malam ini, Anda akan melihat sebagian kecil dari diri saya yang lebih serius. Namun kali ini cara ngeblog saya agak sedikit berbeda, karena saya langsung menulisnya dari ponsel pintar saya.

(catatan: lebih menyenangkan menulis dengan sepuluh jari ketimbang dua ibu jari seperti ini)








Melihat judul di atas, sudah bisa terlihat sepertinya arah tulisan saya akan kemana. Sebagian besar tulisan saya ini merupakan analisis pribadi saya mengenai apa yang terjadi di sekitar saya. Lalu kebenarannya, bisa Anda buktikan di kemudian hari.

Sebagai seorang yang masih awam dengan dunia Jurnalistik, saya ingin mengingatkan bahwa analisis ini sama sekali tidak bermaksud menggurui. Sekadar untuk berbagi saja, karena selama ini saya jarang sekali menulis hal-hal yang agak serius di sini. Tetapi kenyataannya, tidak dapat saya mungkiri bahwa usia mempengaruhi saya untuk menjadi lebih serius (dalam beberapa hal).

Sebelum masuk pada bagian analisis saya, saya ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu.

Enam tahun yang lalu, saya mulai mengenal Jurnalistik. Bahkan kini saya memiliki definisi sendiri terhadap disiplin ilmu praktis yang befondasi pada cabang ilmu sosial tersebut. Meskipun kendatinya saya hanya sempat menjalani profesi sebagai jurnalis selama tiga bulan. Itu pun sudah hampir tiga tahun lalu.

***

Berita mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita (saya berasumsi, pembaca saya saat ini berusia di atas 13 tahun). Apalagi dengan kemajuan teknologi yang mendukung manusia untuk melakukan proses pencarian, pengolahan serta penyampaiannya. Dengan jemari Anda saat ini, begitu mudahnya Anda bisa menemukan apa yang dinamakan berita.

Namun, ada sedikit yang mengganggu pikiran saya hingga akhirnya tergerak melakukan sebuah analisis kecil-kecilan ini. Hal itu adalah minat baca berita, yang konon kabarnya menurun. Apakah kenyataannya benar demikian?

Tiga tahun belakangan ini, saya kerap mendengar bahwa banyak perusahaan media massa cetak yang terpaksa gulung tikar. Hal ini disinyalir karena adanya pengaruh digitalisasi media massa. Biaya produksi media massa cetak atau konvensional tak sebanding dengan pendapatannya. Ditambah persaingan yang begitu ketat dengan lawannya (media siber) yang menggratiskan biaya untuk mengakses beritanya, meskipun tidak semuanya gratis.

Sejalan dengan hal tersebut, banyak pula media siber yang lahir dan menjadi pesaing media-media seniornya yang masih bertahan. Maraknya dotcom (istilah untuk media siber) diketahui merupakan efek dari berpindahnya orang-orang dari media-media lama yang sudah punya cukup kompetensi dalam dunia jurnalistik, sehingga berkeinginan membentuk media baru. Dengan mengusung asas kecepatan dan efisiensi biaya produksi serta operasional, "media baru" ini justru tumbuh dan berkembang pesat

Tetapi kini di tahun 2018, ada media lama dengan wujud baru yang lebih menarik perhatian publik. Media ini sudah kita kenal dengan sebutan media sosial. Media yang dulunya digagas untuk bersosial dalam  dunia maya ini, kini lebih cenderung digunakan sebagai alat penyampaian informasi dan berita. Penggunggah konten yang bertanggung jawab atas media ini sebagian besar bukanlah perseroan terbatas yang berbadan hukum serta diawasi oleh dewan pers. Sehingga tak jarang pula ditemukan berita bohong atau hoax di dalamnya. Terlebih lagi, pengelolanya belum tentu mengetahui tentang Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Pers serta Pedoman Media Siber.

Kendati demikian, media ini tetap memikat di hati para warganet. Hal ini tentunya memunculkan kecemburuan media siber, yang berusaha memenangkan hati si pembaca dalam jagat raya internet. Sehingga banyak pula media siber dan pers lainnya yang bertransformasi, serta melakukan konvergensi dengan beberapa platform media sosial, guna menyiasati agar tidak luput dari perhatian warganet.

Konvergensi ini merupakan upaya pertahanan pers (media massa secara menyeluruh) terhadap media sosial dan tentunya merubah pola perilaku publik dalam mengonsumsi berita. Awalnya, publik diarahkan untuk mengakses situs media siber dengan bermodalkan jaringan internet. Namun, karena kini publik begitu disibukkan dengan aktivitasnya pada media sosial yang  fitur-fiturnya mendukung seseorang untuk melakukan kegiatan citizen journalism, akhirnya publik pun lebih sering mengetahui peristiwa terbaru melalui media sosial.

Sejalan dengan hal tersebut, pers pun mulai mengikuti pergerakan konsumen berita. Kemudian munculah akun-akun jejaring sosial pers pada platform media sosial Facebook, Twitter dan Instagram. Tak ketinggalan pula layanan perpesanan Line yang bekerja sama dengan pers untuk memunculkan fitur Line Today (berisi berita terpopuler versi Line) serta official account pers lainnya yang rutin mengirimkan tautan berita. Bahkan banyak bermunculan pula kanal-kanal televisi berita dalam platform raksasa video YouTube.

Pertanyaannya, benarkah minat membaca berita saat ini turun?

Saya pribadi kini lebih sering membaca berita melalui tautan yang dikirimkan akun pers pada media sosial dan jarang langsung membuka situs berita dari layanan mesin penelusuran. Jika ingin tahu lebih mendalam tentang suatu peristiwa, saya  biasanya membuka beberapa aplikasi pers yang sudah saya unduh dari  Playstore. Di sekitar tempat tinggal saya sendiri, amat jarang menemui loper koran yang dulu biasa mengirimkan koran setiap paginya dengan sepeda.

Jika kita menelusuri kata kunci "Most Literred Nation in the world 2016" dalam mesin pencarian Google, akan muncul berita yang mengutip data dari hasil studi tersebut bahwa minat baca Indonesia berada pada urutan ke-60 dari 61 negara. Tentunya ini sangat memprihatinkan. Meskipun cakupan penelitiannya ialah minat baca secara umum.

Tetapi saya justru punya asumsi lain, terhadap minat baca berita.

Jika tolok ukur saya ialah Playstore (yang bisa saya jangkau), bisa kita lihat bahwa aplikasi penyedia layanan berita masih banyak diunduh oleh pengguna ponsel pintar. Misalnya seperti aplikasi BaBe (Baca Berita) diunduh sebanyak lebih dari 10 juta kali dan berada peringkat atas. Di bawahnya ada aplikasi detikcom yang juga diunduh lebih dari 10 juta kali. Kemudian ada CNN Indonesia, Kompas.com, VIVA, Liputan6.com, Republika.co.id, Kumparan, Tirto.id, dan sebagainnya yang diunduh ratusan ribu kali.

Ini artinya, masih banyak masyarakat (khususnya pengguna ponsel pintar) yang berminat untuk memasang aplikasi layanan berita pada ponselnya, ditinjau dari angka unduhan tersebut. Secara tidak langsung, minat baca berita tidak turun dan justru aksesnya pun kini lebih mudah.  Data pengunduh serta pengunjung laman media siber juga dengan mudah bisa diketahui oleh perusahaan terkait. Sekaligus sumber perangkat serta lokasi pengakses.

Justru, saya berasumsi bahwa yang menurun ialah perilaku membaca berita. Bisa saja, banyak orang yang mengunduh aplikasi berita (seperti saya contohnya) tetapi jarang menggunakannya. Artinya saya berminat untuk membaca berita, tetapi pada kesehariannya, perilaku saya dalam membaca berita mulai berkurang.

Penurunan perilaku membaca berita ini, menurut saya, sebagian besar dikarenakan adanya pergeseran perilaku konsumen media massa yang lebih cenderung menyukai konten dalam bentuk video. Budaya mengikuti akun serta berlangganan pada berbagai platform juga menjadikan konsumen media massa menjadi lebih pasif dalam memilih sajian berita yang disuguhkan.

Meskipun demikian, esensi kebutuhan akan perkembangan informasi dan berita tidak semerta-merta hilang karena adanya pergeseran perilaku konsumen media massa. Artinya, meskipun perilaku membaca berita menurun, tidak membuat publik dan warganet ketinggalan informasi dan berita. Terkadang malah, pers mengambil bahan berita dari apa yang terjadi dalam ruang lingkup warganet dan bersumber pada media sosial.

Kesimpulan dari saya, tidak heran jika sebagian besar orang lebih memilih menonton video berita (baik dari televisi, YouTube, maupun platform lainnya),karena secara psikologis, audio dan visual memang lebih menarik daripada tekstual. Kita juga tidak bisa menyalahkan bahwa generasi saat ini lebih gemar menonton ketimbang membaca berita. Hal ini tidak menurunkan wawasan serta pengetahuan mengenai informasi terkini, selama konten yang dikonsumsinya ialah berita dan diproduksi oleh media pers yang berkompeten.

"Bagi saya, membaca hanya perbedaan cara untuk mengonsumsinya saja. Selama apa yang dikonsumsinya sama, kemungkinan besar nutrisi yang didapat pun akan sama".

Post a Comment

0 Comments