Kerisauan in Twenty 18

2K18: ngeblog atau ngevlog


Selamat malam, dunia yang tak pernah lepas dari kebiasan. Era yang disebut-sebut kekinian. Zaman yang sering dibilang selalu penuh dengan perkembangan.

Malam ini, saya  berusaha mencurahkan isi hati saya melalui kata demi kata. Sekalipun, hanya saya yang membacanya. Biarlah, setidaknya hal tersebut dapat membuat saya lega.


Saat ini, saya berusia 25 tahun dan beberapa bulan lagi (jika dikehendaki) usia  saya akan memasuki angka 26. Satuan imajiner ini terkadang agak 'mengganggu' saya. Ada kalanya, seseorang berkata "Umurmu masih terlalu muda". Namun tak jarang juga ada yang menganggapnya tua.

Tetapi, bukan hal itu yang kini tengah saya risaukan. Karena bagi saya, setiap orang memiliki cara 'melihatnya' masing-masing. Dan terlebih juga buat saya, hal tersebut tidak mempengaruhi cara berpikir saya.

Justru yang mengganggu saya, ialah pemikiran tentang menunggu waktu itu sendiri tiba. Tak jarang, saya menunggu sesuatu datang lebih cepat. Seperti misalnya saat saya kecil, saya ingin cepat-cepat kedatangan masa dewasa.

Hal serupa juga sering terjadi dalam hal lain di hidup saya. Saya ingin semua cepat berlalu. Saya ingin, semua senantiasa berubah. Namun anehnya keinginan saya itu tidak pernah berubah.

Jika hidup saya seperti sebuah film, mungkin saya akan menekan tombol forward agar hidup saya bisa cepat selesai. Karena saya begitu penasaran, bagaimanakah ending cerita kehidupan yang rumit ini. 

Namun saya sadar, hal tersebut tak mungkin bisa saya lakukan. Seolah seperti ada seseorang yang selalu berkata di belakang saya  "Jalani saja!".

Setiap harinya bahkan saya menjalani kehidupan dengan normal. Setidaknya, saya merasa bahwa apa yang saya alami normal-normal saja. Normal bagi saya, maksudnya adalah bahwa yang saya jalani selama ini kadang terasa sangat berat, dan kadang pula begitu ringan. 

Kadang seru, namun ada saatnya menjadi membosankan. Kadang meninggalkan, sering juga ditinggalkan  (agak sedikit mengenaskan didengarnya). Ya, kurang lebih seperti itu.

Apakah kehidupan memang kurang lebih seperti ini?


Lantas, apa yang membuat saya sampai saat ini masih menunggu? Bahkan saya kadang tidak tahu, yang sedang saya tunggu dalam kehidupan ini. Apakah hanya kesuksesan hidup, atau kebahagiaan semata.

Semua hal dalam hidup begitu cepat berlalu. Apalagi jika saya tidak sempat menuliskannya. Dan tidak ada pula yang merekamnya. 

Semuanya berlalu.

Namun, ada yang senantiasa terekam tanpa harus disengaja untuk direkam. Sama halnya seperti, ada yang senantiasa tertulis tanpa harus ditulis. Saya setuju dengan menyebutnya kenangan. 

Semua yang berlalu, tersimpan di kenangan. Dan semua yang belum terjadi, berkumpul dalam angan. Sepersekian detik saja, kenangan bisa langsung dimunculkan, sama halnya dengan angan. Namun, keduanya sama-sama memiliki keterbatasan. 

Jika kenangan tidak bisa memunculkan kejadian sebelum kita ada, begitu pula angan yang tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi ketika nantinya kita tidak ada.

"Keberadaan selalu menjadi misteri. Begitu juga ketiadaan"


Membicarakan hal tersebut juga berpotensi memicu hilangnya kepercayaan. Jadi, saya lebih banyak untuk tidak mengutarakannya. Namun kali ini, entah mengapa saya memilih untuk mengutarakannya. Tentang keberadaan saya, yang suatu saat akan tidak berada lagi.

Melalui blog ini, saya belajar bahwa proses pendewasaan hidup tidak pernah ada habisnya, sampai hidup itu sendiri habis. Apalagi ketika saya membaca kembali tulisan-tulisan lama saya, tentang kerisauan saya. Saya sadar, bahwa kerisauan hidup tidak akan pernah usai. Mungkin yang membedakan, hanyalah konteksnya saja.

Saya juga sering merasa aneh, ketika membaca tulisan tersebut dan tiba-tiba saya bertanya, 

"Kenapa saya dulu seperti itu? Apa yang sekiranya saya pikirkan saat itu?"


Dan saat ini terjadi lagi . Prediksi saya, suatu saat saya juga akan terkejut melihat tulisan yang tengah saya buat ini.
Nampaknya benar bahwa bermain-main dengan pikiran sendiri selalu menyenangkan buat saya. Karena dengan menulis, saya selalu bebas mengutarakan apa pun, yang kadang tak bisa saya utarakan secara langsung.

Seperti misalnya, betapa senangnya saya yang (katanya) sudah dewasa ini tetapi masih sering diperhatikan layaknya anak kecil oleh ibu saya. Namun, saya selalu tidak bisa bersikap manja seperti dulu saat masih menjadi anak-anak. Kadang saya merasa menjadi orang yang dingin, padahal sebenarnya tidak.

Ingin sekali saya bisa memeluk ibu saya dan berkata, "terima kasih telah membesarkan saya selama ini". Namun, hal ini seolah menjadi sangat berat. 

Apakah kedewasaan memang seperti ini?
 Tidak bisa membuat kita melakukan hal 'manis', seperti waktu kecil dulu.


Saya juga memberanikan diri menuliskan ini karena saya yakin, baik keluarga maupun ibu saya, tidak akan ada yang membacanya. Tetapi, melalui tulisan ini juga saya ingin menegaskan, bahwa saya tidak sedingin itu. Mungkin, cara saya untuk membalas kasih dan sayang orang tualah yang kini berbeda. 

Jauh di dalam hati saya, keluarga adalah bagian terpenting dalam hidup saya. Mungkin saya hanya tidak pernah berani untuk mengutarakannya.

Kadang saya juga rindu, masa-masa kecil saya. Tentunya saat itu, saya tidak mampu mengutarakan isi hati melalui tulisan seperti ini. Namun, ada hal 'indah' lain yang dulu bisa saya lakukan dan saat ini tidak. Seperti misalnya, kita dulu tidak perlu memikirkan gengsi, ego ataupun malu, karena dulu yang ada hanyalah satu kata yakni seru.



***


Tidak seperti saat ini, yang selalu dipertanyakan "MANA HASILNYA?". Seolah jika dalam hidup (orang dewasa) belum menghasilkan apa-apa, maka hidupnya akan terasa sangat sia-sia.

Melakukan hal apa pun, juga senantiasa dibayang-bayangi sukses atau tidaknya sesuatu itu. Seolah gagal menjadi sangat ditakuti dalam proses mencoba, hingga akhirnya mengurungkan niat untuk mencoba. Atau kita boleh menyebutnya Failedphobia.

Pemikiran serupa juga ditemukan saat berkarya. Fokus kita terganggu, dengan tuntutan 'karya yang menjual' atau 'yang penting diliat'. Dimana sekeliling kita saling berebut 'suka', 'pelihat' dan 'pengikut'. 

Fenomena seperti ini seolah-olah berkata pada saya bahwa semua orang ingin menjadi terkenal. Atau bolehlah jika kita sebut ini sebagai aliran Famouslism.

Terkadang yang membuat hidup orang dewasa juga terlihat tampak begitu rumit, karena kita sudah mengerti tentang dunia sekitar kita. Dan terlebih lagi, setiap pemikiran, perkataan maupun perbuatan kita, mesti dipertanggungjawabkan.

Sebagai contoh, dalam memilih pekerjaan. Sering kali pekerjaan diidentikkan dengan besarnya bayaran. Seolah salah besar jika memilih pekerjaan dengan penghasilan minim. Dianggap, tidak realistis. Atau kasarnya, bodoh.
.
Padahal, ini kan juga persoalan suka atau tidak suka. Jika pekerjaan tersebut yang kita suka, tentunya akan membuat kita bahagia. Tetapi, itu mungkin bisa saja tidak membahagiakan orang di sekeliling kita. Baik itu keluarga, maupun pasangan kita.

Bagi saya, semua pilihan sah-sah saja. Konsekuensinya juga kembali kepada kita. Tetapi jika tidak ingin dianggap egois, sebaiknya perlu mempertimbangkan sekeliling kita juga, terutama keluarga.

Menjadi orang egois itu sangat mudah. Sama mudahnya dengan menjadi intoleran.


Saat ini pun, kerisauan saya semakin dipicu oleh sekeliling saya yang tak henti-hentinya berusaha meruntuhkan idealisme saya. Sebagian besar berdasarkan fenomena yang saya lihat di media sosial. Sebagian lainnya saat tengah bercengkerama dengan kawan-kawan saya.

Muncul pertanyaan di benak saya, sepertinya menjadi seorang Vlogger lebih menguntungkan daripada Blogger.


Entahlah. Mungkin saya hanya melihat dari sebagian orang-orang yang berhasil saja. Tanpa mengetahui, bagaimana 'susahnya' perjuangan mereka dalam meraih kesuksesannya. Baik menjadi blogger maupun vlogger, tentunya perlu usaha yang tidak bisa dibilang 'gampang'.

Saya berkali-kali berkata kepada teman saya, bahwa sebenarnya dalam hidup ini kita tidak membutuhkan uang, namun sekeliling kita membutuhkan uang kita. Terutama, kebutuhan kita. Namun mereka menjawab, "Itu sama saja!" (tentunya ini hanya lelucon saya saja)

Tetapi buat saya, ini jelas berbeda. Menurut saya, kita perlu mengetahui mengapa kita membutuhkan uang, dan untuk apa uang itu nantinya kita gunakan. 

Sebagai contoh, misalnya dalam hidup ini kita selalu butuh makan. Seandainya, jika untuk memperoleh makanan yang kita makan sehari-hari kita bisa bercocok tanam sendiri dan berternak, artinya kita tidak membutuhkan uang untuk memperoleh lauk pauk serta sayuran yang kita makan. Dengan kata lain, kita bisa makan tanpa butuh uang
.
Begitu pula dengan hal lain, misalnya kita bisa menjahit baju sendiri, kita tentunya tidak membutuhkan uang untuk beli pakaian atau setidaknya tetap perlu biaya untuk membeli bahannya, namun mengurangi biaya pembuatannya.

Tetapi pertanyaannya, apa bisa kita menciptakan sendiri semua yang kita butuhkan? Jawabannya, bisa iya, bisa juga tidak. Tergantung, apa kebutuhan kita.

Bila di zaman saat ini, internet telah menjadi kebutuhan bagi banyak orang. Tentu saya pun tidak bisa mengatasi kebutuhan itu sendiri. Karena itulah, kita masih 'membutuhkan' uang, yakni untuk memenuhi sebagian dari kebutuhan kita yang belum bisa kita atasi sendiri. Dengan kata lain, perlu bantuan dari orang lain, baik itu berupa barang maupun jasa.

Begitu pula, jika dikaitkan dengan pasangan. Bila kita dapat memenuhi kebutuhan pasangan kita tanpa uang, tentu pasangan kita tidak menuntut kita mencari uang sebanyak-banyaknya. Tetapi, kita tidak mungkin dapat memenuhi semua kebutuhan pasangan sendiri, karena kita senantiasa membutuhkan orang lain. 

Inilah mengapa, kita 'masih' butuh uang. Lagi pula, alangkah bijaknya jika sebuah pasangan saling memenuhi kebutuhan pasangannya. Bukan hanya salah satunya saja yang berusaha, tetapi keduanya. Mungkin yang membedakannya adalah caranya dan porsinya.

Sejauh ini saya pun berpikir, betapa kaya-nya seseorang ketika mereka tidak membutuhkan uang dalam hidupnya. Artinya, semakin sedikit ia membutuhkan uang, maka esensi kehidupannya semakin kaya. Karena mereka mampu mengatasi kebutuhannya sendiri dan tidak bergantung pada orang lain.

Ah, sudahlah. Tiba-tiba curhatan ini jadi terasa semakin berat ketika mulai membicarakan tentang uang dan pasangan. Jadi ingat, dulu saya pernah berpendapat,

"Cinta selalu membahas ekonomi, sekalipun ekonomi sama sekali tidak membahas cinta"


Sekiranya, dalam tulisan kali ini saya pun sadar, bahwa betapa beruntungnya saya bisa memenuhi kebutuhan menulis saya, tanpa membutuhkan uang. Dan saya juga bersyukur memiliki hobi yang murah seperti ini.

Saya berharap, melalui tulisan ini ada manfaat yang bisa diambil dan dipahami sebagai bentuk diskusi kehidupan yang sering kita risaukan. Dan semoga pula, ada secercah percerahan dari buah-buah pemikiran yang sudah tersalurkan.

Akhir kata, terima kasih atas keluangan waktunya yang telah dipergunakan untuk membaca.


Salam Risau,

Rico Suyanto

Post a Comment

0 Comments