Ketidaksengajaan dan Kebetulan

Dua penggal kata di atas ibarat sama tapi berbeda. Ibarat anak kembar tapi beda tahi lalat. Ibarat toilet cowok sama toilet cewek, meskipun deketan tapi tetep aja ya beda. Iya, mereka bedua tuh beda tapi selalu bersandingan.

Padahal, awalnya gue nggak sengaja browsing , gara-gara mesti upload ulang e-mail yang attachment file-nya 100mb (tugas temen gue, pas udah mau kekirim leptop gue lowbet dan mesti upload ulang). Berhubung koneksi di rumah gue nggak seperti di Seol, jadi gue bete deh nunggu attachmentnya kelar. Mulai deh gue browsing..(perasaan tadi udah bilang gini)

Padahal lagi, tadinya ngga ada niatan bangun malem setelah tidur terus ngeblog (udah kayak Tahajud aja). Iya, semua tanpa rencana. Semua ini ketidaksengajaan. Semua ini  cuma kebetulan. Tapi, lagi-lagi itu semua cuma awalnya aja. Awalnya nggak sengaja, awalnya kita bisa bilang kebetulan. Tapi lagi, semua tergantung setelah itu semua. Setelah ketidaksengajaan dan setelah kebetulan itu kita temukan.

Setiap hari, kita sering banget dipertemukan sama ketidaksengajaan dan kebetulan. Entah itu di rumah, jalanan, kampus, kantor, pasar, mall, atau bisa juga di parkiran. Pokoknya di mana aja bisa ketemu deh sama ketidaksengajaan dan kebetulan, gue singkat jadi KDK (capek nulisnya panjang-panjang). Tapi KDK ini kadang nggak keliatan, jadi walaupun kita ketemu, kita nggak sadar sama keberadaan dia. (dia = KDK).

Karena ketidaksadaran kita lah, KDK kadang suka males ketemu lagi sama kita. Kesempatan kedua buat ketemu KDK selalu ada, tapi kesempatan kedua sama kesempatan pertama itu beda. Walaupun sama-sama kesempatan. Apalagi nunggu kesempatan ketiga, hmmm jarang kalo ini mah. Jadi kalo kita bisa lakuin di kesempatan yang pertama, kenapa kita harus nunggu kesempatan kedua, malah ngarepin kesempatan ketiga. Tapi kalo di balik jadi gini; kenapa kita harus terpaku sama kesempatan pertama, padahal kesempatan kedua selalu ada dan malah mungkin kita masih dapet kesempatan ketiga. Kenapa mesti buru-buru, kenapa ngga nyoba sabar, kenapa mesti nyerah? Nah, bingung kan jadinya. Kalo menurut gue sih, dua-duanya bener tergantung kapan kita mau gunainnya. Lebih jelasnya? Oke, mari kita buat ini lebih jelas.

note:
*sekarang kita mulai bermain dengan teori, jangan ngantuk ya!

Di dalam hidup ini, standarnya sih kita selalu diberi tiga kesempatan.

1. Kesempatan Pertama
Kesempatan ini adalah kesempatan yang paling suci. Belum pernah ternodai oleh kegagalan-kegagalan. Karena kesucian ini, kita malah kadang ngeremehin. Iya, kan baru pertama kali nyoba, gagal wajarlah. Gitu kan kadang yang terlintas di benak kita. Entah ini dikaitkan dengan hal apapun, pasti akan timbul pikiran begitu. Beda kalo kita menghargai kesempatan ini, misalnya karena ini kesempatan pertama jadi kita ngga mau menyianyiakannya begitu aja. Karena kita takut, kita ngga ketemu sama kesempatan berikutnya. Namanya juga umur, siapa yang tau. Bisa aja gue abis ngomong begini, tiba-tiba ini jadi postingan terakhir gue. Duh, kok jadi horor gini. (maksudnya postingan terakhir, abis ini gue lupa password blog atau ngga blog gue ada yang ngehack terus gabisa dibuka lagi). Fokus please, sampe mana ya tadi. Oh iya, tadi gue mau bilang karena kita ngga menyianyiakan kesempatan pertama akhirnya kita berhasil dan sukses di kesempatan yang pertama. Enak kan jadi ngga buang-buang waktu alias efektif dan efesien dalam mengggunakan waktu.

2. Kesempatan Kedua (bukan lagunya Tangga ya!)
Kalo di kesempatan pertama kita masih semangat-semangatnya, tapi di sini agak mulai kendor. Walaupun kita masih seneng punya kesempatan buat nyoba lagi. Di sinilah pembuktiannya, pembuktian bahwa Tuhan masih sayang sama kita. Tinggal gimana kita yang menentukannya, gimana kita yang mengolahnya, gimana kita yang memanfaatkannya. Iya, semua tergantung kita. Mau nyerah boleh, tapi sayang udah kentang. Mau lanjut juga kadang males takut gagal lagi. Pokoknya di sini tuh jembatan antara kegagalan dan keberhasilan. Kalo kita diem, kita ngga akan sampai di sebrang. Tapi tetep, kita masih bisa nyebrang meskipun kita ngga tau kapan waktu yang pas. Jadi, pada kesempatan kedua inilah kita wajib mengkombinasikan antara kesabaran dengan ketepatan kalo bahasa ilmiahnya timing and accuration.

3. Kesempatan Ketiga
Rasanya buat nulis kesempatan ketiga kok agak berat ya. Gue jadi kebawa lemes gini, padahal dari tadi gue ngeblog semangat banget. Bener-bener nih efek kesempatan ketiga sampe segitunya. Ada yang bilang kesempatan ketiga tuh sama kayak kesempatan terakhir, miracle, keajaiban, mujizat atau entah apalah itu namanya. Tapi yang jelas, kesempatan ketiga adalah kesempatan setelah kita gagal di kesempatan yang pertama. Iya, kesempatan dimana rasa penyesalan dan menyerah bercampur menjadi satu bak larutan senyawa yang berkontraksi dan membius pikiran asral. Kental dan mematikan secara perlahan. Rasanya udah ngga mungkin buat berhasil, jauh banget dari kesuksesan. Di kesempatan inilah, kita akan mulai memalingkan wajah kita ke belakang, dan melihat betapa jauhnya jalan berliku yang telah kita tapaki. Ribuan kilo kah, jutaan mil kah, entahlah. Atau mungkin kita mulai menghitung, betapa lama waktu yang telah kita habiskan. Tetapi inilah eksekusi terakhir yang menjadi penentu untuk kita, apakah kita menginginkan hasil akhir pertandingan kalah atau menang. Tidak ada lagi pilihan untuk skor imbang di sini, cuma ada dua yang tadi udah gue sebut. Mau kalah atau menang?


"Sampai di sini apakah ada pertanyaan? Cukup jelas? Baik, kalau begitu kita lanjutkan." (biasanya dosen suka ngomong gini nih)

Ketiga kesempatan di atas adalah lanjutan atau langkah-langkah yang harus ditempuh setelah kita bertemu dengan KDK. Sekarang gue coba kaitkan dengan kehidupan nyata, yang gue alami.

contoh:

Ketidaksengajaan
Dua tahun yang lalu, Rico mengikuti ujian masuk Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) kemudian ia diterima sebagai mahasiswa cadangan jurusan MICE D4 (Sarjana Sains Terapan). Karena kemudian ia tidak mengerti dengan proses lanjutan untuk mahasiswa cadangan agar menjadi mahasiswa tetap, ia kemudian gagal menjadi mahasiswa PNJ. Karena ketidaksengajaan inilah Rico gagal menjadi mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (PTN), dan mesti rela kehilangan status negerinya. Padahal impiannya adalah dari SD, SMP, SMA, dan kuliah di instansi pendidikan berstatus negeri. (kesempatan pertama)

Kebetulan
Setelah kegagalan tersebut, Rico kemudian beranjak pulang untuk gantung diri di pohon jengkol. Tetapi niat tersebut kandas, saat ia melintasi Kampus Tercinta IISIP Jakarta. Kampus IISIP yang kebetulan ia lewati saat di jalan pulang, akhirnya menjadi pilihannya. Kebetulan sekali jarak kampus tersebut dengan rumahnya tidak begitu jauh, ini artinya ia bisa mengurangi hobi keterlambatannya. Ini artinya ia berhasil menjadi mahasiswa, dan berhasil melajutkan pendidikan sampai ke Perguruan Tinggi walaupun bukan PTN, dan meskipun bukan di Cina.
(kesempatan kedua)



Tanya  : Udah co ceritanya? Terus kesempatan ketiga dimana?
Jawab : Kesempatan ketiga masih gue pegang, masih gue simpen. Masih gue jadiin kuncian. Jadi kalo misalnya, (amit-amit) gue gagal nih kuliah di IISIP, gue masih punya tuh kesempatan ketiga buat jadi pengusaha muda.


Seperti biasa hampir di semua postingan gue, gue akan merangkum sebuah kutipan yang moga-moga dapat digunakan sebagai pembelajaran.


"Kita sering terbuai oleh kesempatan, kita juga sering hanyut dalam penyesalan, tetapi kita jangan sampai larut oleh keputusasaan"



Terima kasih kepada siapapun yang telah membaca, salam olahraga!
(ngomong-ngomong ini gue udah dua kali upload file 100mb tapi gagal, bete abis. Mana ini postingan udah mau kelar. Udah pagi juga. Duh, kesempatan ketiga mana kesempatan ketiga sinihin!!!)

Post a Comment

0 Comments