Liburtivitas Theory Part 2

Dua bulan berlalu, blog ini gue nggak buka-buka. Bukan karena gue nggak sempet, bukan juga karena koneksi internet di rumah di putus. Tapi lagi-lagi ini semua terjadi karena gue terbawa arus rutinitas. Ya, rutinitas adalah hal yang paling sulit untuk dihindari. Apalagi kalo rutinitas itu emang penting banget buat menyambung hidup lo. Pastinya lo bakal memprioritaskan rutinitas lo, ketimbang hal lain yang ada di sekeliling lo. Gue pun demikian, karena pekerjaan gue yang sekarang sebagai cashier lumayan menyita sebagian RAM di otak gue. Imbasnya, blog gue pun terbengkalai. Impian untuk bisa nge-post sehari lima kalipun semakin menjauh.

Di tengah keresahan gue ini, rupanya Tuhan masih memberikan kesempatan kedua buat gue. Pagi ini, dibekali seonggok leptop baru (bekas kaka gue sih, yang dihibahkan ke gue dengan gue membayar sedikit uang formalitas) gue akan memulai kembali menghiasi lembar-lembar jurnal dijital ini dengan ketikan-ketikan berirama bak simfoni yang merasuki pikiran dan jiwa-jiwa pembaca setia. Gue nggak mau mengkufuri nikmat-Nya lagi kali ini. 


Pagi ini, suhu Jakarta 23 derajat celcius. Jakarta dan sekitarnya masih diselimuti banjir tebal. Hujan yang tiada henti menghujani kota ini, seolah berkata bahwa imlek telah dekat. Iya, tanggal 31 Januari nanti tepat tahun baru Imlek. Mitosnya sih, kalo Imlek hujan deres berarti rejeki buat para orang cina. Karena gue bukan murni darah cina, jadi gue kurang begitu mengerti soal ini. Tapi yang jelas, ini tuh kadang ada benernya juga. Buktinya, hujan deres begini dan banjir di sana sini, gue malah dapet rejeki leptop baru (sekali lagi ini bukan barang baru).

Ngongo (gomong-ngomong), gue lagi liburan semester. Lebih tepatnya meninggalkan sejenak aktivitas belajar dan diajar. Enggak kerasa sih, bulan Maret nanti gue udah semester empat. Dan nggak kerasa juga, udah lima mata kuliah yang dapet nilai E dan mesti diulang. Tapi sombongnya gue, baru mau semester empat aja pake sok mikirin mau lanjut kuliah S2 dimana. Entah itu pikiran sombong terlintas gitu aja, bukan bermaksud nggak menghargai kakak-kakak senior yang sampe sekarangpun belum tembus S1 ya.

 Libur kali ini bikin gue bener-bener resah. Rutinitas dan Loyalitas bikin gue semakin kehilangan kreativitas. Perlahan gue berubah menjadi kaum pekerja, bukan lagi kaum pengkarya. Keresahan inilah yang kemudian membuat gue membuat beberapa teori baru, yang mungkin bisa dijadikan cerminan buat gue di masa mendatang. Tanpa bermaksud mendoseni kalian, gue cuma mau berbagi pemikiran lebih yang sedang meluap-luap di sekitar pembuluh otak gue. Itung-itung ngurangin beban gue sedikit, maka pemikiran ini mesti diutarakan. Satu-satunya media yang mau menampungnya adalah blog gue sendiri. Gak perlu buang-buang karakter lagi, langsung aja gue bahas deh.

 1. Banjir salah siapa?

Pertanyaan ini udah terjawab dari dulu, tapi belum teratasi masalahnya sampe sekarang. Inget nggak waktu SD kita pernah belajar Pendidikan Lingkungan dan Kota Jakarta (PLKJ), disitu kita diingetin buat buang sampah pada tempatnya. Tapi nyatanya kita belum setertib itu, kita mestinya bisa mencontoh negara lain seperti Denmark, di sana sistem daur ulangnya udah keren banget. Atau kita juga bisa tengok negara tetangga, yaitu Singapura. Di sana pemerintahnya tegas dengan denda sana-sini buat yang buang sampah sembarangan. Jadi kalo nggak mau ngeluh tentang banjir, mending ubah pola hidup masing-masing. Kita mesti sadar untuk saling ngingetin biar ga ada lagi yang buang sampah di kali.

2. Nilai Rupiah makin turun, kenapa?

Banyak aksi demo buruh yang minta kenaikkan gaji. Harga Gas Elpiji juga sempet naik. Emas dan Dollar naik turun gak karuan. Upah Minimum Rakyat juga belum ada kejelasan. Tapi yang pasti, harga rupiah makin melemah. Sebenernya banyak banget faktor yang mempengaruhi melemahnya nilai Rupiah. Gue juga udah beberapa kali bincang-bincang sama dosen Ekonomi di kampus gue, dan gue sedikit mengerti kenapa jamannya pak Harto bensin murah, apa-apa murah. Jadi begini..
     2.1 Pertama, ada yang namanya inflasi. Alias peningkatan harga-harga secara umum dan terus menerus (kontinu). Jadi wajar dong kalo harga naik, tandanya negara kita semakin maju? Iya emang bener, tapi kalo naiknya drastis pasti ada kesalahan dari alokasi sumber devisa. Contohnya: Pas jamannya Pak Harto, harga Dollar stabil alias tetap. Itu bisa terjadi karena cadangan devisa negara dipakai buat beli Rupiah. Seolah permintaan terhadap Rupiah tinggi, padahal sih enggak. Jadi negara akhirnya punya hutang buat bikin nilai Dollar tetap stabil dengan Rupiah. Emang sih rakyat sejahtera dulu, tapi imbasnya ya di jaman kita. Negara mesti bayar tuh hutang piutang yang dulu pernah dipinjem.
    2.2  Kedua, negara kita terlalu banyak melakukan aktivitas impor ketimbang ekspor. Buktinya liat deh di rumah kita, kebanyakan barang-barang yang kita gunakan berasal dari produk luar negeri. Indonesia yang dulunya jadi eksportir beras terbesar, sekarang malah jadi importir beras terbesar. Ini kan parah banget, kemana perginya para petani kita. Padahal di luar negeri mah petani pada kaya-kaya, gak seperti di negara ini. Menurut gue sih, Pemerintah juga kurang memperhatikan nasib para petani. Terlebih lagi, Pemerintah terlalu membiarkan beras impor masuk. Apalagi tuh yang lagi hangat dibicarain soal WTO (World Trade Organization). Padahal kita juga belum mengefektifkan aktivitas AFTA (Asean Free Trade Area). Makanya nih buat para eksportir, Pemerintah lebih menekan agar kita mengekspor barang jadi yang harganya mahal, bukan barang mentah yang harganya jauh lebih murah.
   2.3 Ketiga, masih soal impor. Inget ngga mobil ESEMKA sempet dibilang ngga layak uji emisi dan belum boleh dipasarkan? Alasannya menurut gue simpel, karena para pengusaha mobil yang berinvestasi di Indonesia takut kalah saing sama mobil murah buat dalam negeri ini. Secara, kalo orang-orang pada beli ESEMKA, showroom-showroom yang pada jualan mobil jepang bakalan sepi pembeli. Kalo emang ESEMKA nggak layak lolos uji emisi, terus kenapa bajaj lama, kopaja lama, dan metromini masih bisa tuh berkeliaran di Ibu Kota Jakarta ini. Padahal emisi buangan kendaraan tersebut berbahaya banget. Coba deh kita pikir lagi, apa iya cuma karena nggak lolos uji emisi? Apa karena takut kalah saing? :)
   2.4 Keempat, kesadaran masyarakat akan menabung dan ikut asuransi masih kurang. Kalo di negara maju, masyarakatnya udah pada sadar kalo menabung itu penting dan asuransi itu wajib. Padahal kalo kita nabung nih, tingkat konsumsi kita jadi berkurang. Terus, bank dengan dana yang banyak dari para nasabah akan memutar uang tersebut dengan memberikan pinjaman kepada para investor. Akhirnya, investor punya dana buat ngebangun pabrik dan lapangan pekerjaan lainnya. Pembangunan pun semakin meningkat dan negara semakin maju.
   2.5 Kelima, masih banyak para sarjana yang menjadi job seeker ketimbang job creator. Pengusaha di Indonesia masih di bawah dua persen, angka ini sungguh jauh dari perkiraan. Kuliah mestinya bikin orang-orang sadar kalo kita ngga harus melulu jadi seorang pekerja. Minimal dengan ilmu yang di dapat di Perguruan Tinggi, kita bisa bikin usaha kecil yang nantinya akan menambah devisa negara.
   2.6 Keenam, devisa kita dari sektor pariwisata kurang memuaskan. Kenapa gue bisa ngomong gitu, karena akses untuk menuju tempat pariwisata di negeri ini sulit. Nggak kayak di negara tetangga. Bukan berarti tempat wisata di Indonesia ngga menarik, malah Indonesia menarik banget buat di kunjungin sama turis. Sayangnya aksesnya sulit dan birokrasinya berbelit-belit. Contohnya: Dari Jakarta lebih murah mana biaya terbang ke Bali sama ke Singapura? Lebih mudah mana aksesnya? Negara lain menawarkan paket penerbangan yang lebih murah dan mudah agar menjadi destinasi wisata bagi turis. Tapi sistem ini belum berjalan dengan baik di negara kita. Akhirnya, ya devisa seadanya. Malah orang kita yang jadi sering jalan-jalan ke luar negeri.


3. Presiden yang akan datang, pilih siapa?

Jawaban gue simpel, siapapun dia yang penting bukan orang yang menguasai media massa dan bukan kalangan pengusaha. Melainkkan kalangan orang non-elite tapi punya intergitas tinggi untuk merubah budaya korupsi dan birokrasi yang cacat menjadi kepemerintahan yang jujur, terbuka dan adil bagi semua kalangan masyarakat. Apapun statusnya.

4. Money, Time and Problem

Menurut liburan gue kali ini, kalo lo punya uang tapi nggak punya waktu itu akan menjadi masalah. Begitu juga, ketika lo punya waktu dan ga punya uang, itu juga akan jadi masalah. Jadi kalo nggak mau hidup ini bermasalah, lo mesti punya dua-duanya alias punya uang dan waktu. Makanya gue baru ngerti kenapa orang bule suka bilang "Time is Money", karena keduanya sama-sama penting dan bernilai sama. Dengan mengkombinasikan uang dan waktu, perlahan lo akan bisa mengatasi permasalahan di hidup ini. Kalo lo pinter mengatur keduanya seimbang, niscaya hidup lo jauh dari masalah. Amiin.
 

5. Think Inside the Things

Satu hal lagi yang bisa gue tuai dari hasil teori kali ini ialah kita mesti melihat sesuatu (masalah) lebih detail, rinci dan mendalam. Kita ngga bisa menilai dari luar aja, alias pendapat orang-orang tapi kita mesti buat riset kecil-kecilan dari hal terkecil di hidup kita. Begitu juga halnya dalam mengintrospeksi diri, kita jangan liat perubahan di diri kita dari luarnya aja, tapi juga kita resapi lewat pengalaman dan waktu yang udah kita lalui. Berapa banyak hikmah pelajaran yang udah kita dapatkan setiap harinya? Mungkin emang mimpi-mimpi besar kita belum terwujud, tapi seenggaknya kita udah menggapai mimpi-mimpi kecil kita. Gue pun memfilosofikan hidup ini seperti bermain monopoli. Kita sering berputar-putar di jalan yang sama untuk mendapatkan peruntungan nasib yang berbeda sambil berusaha dan bersaing menambah nilai pada hidup kita.



"Bekerjalah dan berusahalah untuk hidup. Tapi jangan hidup sebagai pekerja dan pengusaha saja"

Kutipan terakhir dari gue, karena hidup ini bisa dinikmati dengan banyak hal. Banyak waktu yang bisa digunain selain menjalani rutinitas. Dan menikmati hidup nggak harus jadi pekerja dan pengusaha aja. Bisa aja jadi seniman, dokter, polisi, politisi, dan masih banyak lagi deh pokoknya. Bisa juga jadi Jurnalis kayak gue.. he he he.

Post a Comment

0 Comments